Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan
fisiologi merupakan kebutuhan paling dasar yang lebih berhubungan pada
kebutuhan fisik, seperti kebutuhan makanan, minuman, tempat berteduh, seks,
tidur, dan oksigen. Kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan yang memiliki
potensi besar untuk menuju ke tingkat kebutuhan berikutnya. Misalnya, ketika
manusia merasa lapar, maka akan mengabaikan atau menekan dulu kebutuhan lain.
Manusia akan memuaskan rasa lapar tersebut dengan mencari makanan dan minuman.
Untuk manusia yang sudah mapan, sebuah rasa lapar merupakan gaya hidup. Mereka
sudah memiliki cukup makanan, tetapi yang mereka rasakan ialah citarasa dari
makanan yang mereka inginkan. Berbeda dengan manusia yang belum mapan, ketika
merasa lapar, mereka tidak mementingkan cita rasa, tekstur, bau, ataupun
temperatur.
Kebutuhan
Fisiologi berbeda dengan kebutuhan lain karena kebutuhan fisiologi memiliki dua
hal. Pertama, kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi atau
minimal dapat diatasi, seperti pada kebutuhan makan manusia. Setelah selesai
makan mereka akan merasa kenyang dan kemungkinan bisa merasa mual ketika
dihadapkan dengan makanan lagi. Kedua, kekhasan dari kebutuhan psikologis ini
ialah kebiasaan yang diulang-ulang. Pada saat seseorang tersebut telah memenuhi
rasa laparnya, selanjutnya rasa lapar tersebut akan muncul kembali dan terus
berulang-ulang, mereka akan memenuhi kebutuhan tersebut. Pada kebutuhan di
tingkat yang lebih tinggi tidak terus menerus muncul.
Dalam manajer
implikasi, kebutuhan psikologis bisa ditujukan kepada kebutuhan psikologi
karyawan. Perusahaan harus memberikan gaji yang sesuai dengan kebutuhan
karyawannya. Selain itu, perusahaan juga memberikan kebutuhan waktu makan dan
istirahat yang cukup.
Kebutuhan
Akan Rasa Aman
Setelah
kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi, maka ada kebutuhan rasa aman, seperti
rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan, dan kebebasan dari
berbagai ancaman, teroris, penyakit, takut, cemas, atau bencana alam. Apabila
kebutuan fisiologi perlu dipenuhi secara total, sedangkan kebutuhan akan rasa
aman tidak bisa terpenuhi secara total. Manusia tidak bisa dapat terlindungi
dari berbagai ancaman meteor, kebanjiran, atau ancaman dari orang lain.
Menurut
Maslow, orang-orang yang tidak merasa aman mempunyai tingkal laku yang berbeda.
Mereka akan bertingkah laku seperti orang yang memiliki ancaman besar. Orang
yang merasa tidak aman otomatis akan mencari kestabilan dan akan berusaha keras
menghindari hal-hal atau keadaan yang asing atau yang tidak diharapkan.
Dalam
manajer implikasinya kebutuhan ini, manajer dapat memberikan jaminan keamanan
kepada karyawan, seperti lingkungan yang aman, tempat yang higienis, atau
jaminan pensiun, sehingga mereka merasa aman baik dalam lingkungan ataupun
finansial.
Kebutuhan
Akan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang
Setelah
dua kebutuhan di atas terpenuhi, selanjutnya akan muncul kebutuhan akan rasa
memiliki-dimiliki dan kasih sayang. Manusia akan mencari sahabat, pasangan,
keturunan, dan kebutuhan untuk dekat dengan keluarga. Seseorang yang cintanya
sudah relatif terpenuhi tidak akan merasa panik ketika menolak cinta dan ketika
ada seseorang yang menolak dirinya, ia juga tidak merasa hancur. Maslow
berpendapat bahwa kebutuhan cinta merupakan cinta yang memberi dan cinta yang
menolak. Kita perlu memahami cinta, mengamalkannya, menciptakannya, dan
mengajarkannya.
Dalam
manajer implikasinya, kebutuhan ini berhubungan dengan kebutuhan sosial.
Manajer perlu mendorong tim untuk mengatur kegiatan sosial. Dari kegiatan
sosial tersebut akan menciptakan persahabatan dan keluarga. Dengan begitu
kebutuhan akan kasih sayang dapat terpenuhi.
Kebutuhan
Akan Penghargaan
Setelah
tiga kebutuhan di atas terpenuhi, manusia akan mengejar kebutuhan akan
penghargaan, seperti menghormati orang lain, status, ketenaran, reputasi,
perhatian, dan sebagainya. Menurut Maslow, kebutuhan akan penghargaan juga
terbagi atas dua tingkatan, yaitu tingkatan yang rendah dan tinggi. Tingkatan
rendah yaitu kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan status,
ketenaran, reputasi, perhatian, apresiasi, martabat, dan dominasi. Kebutuhan
yang tinggi ialah kebutuhan harga diri seperti perasaan, keyakinan, kompetensi,
prestasi, penguasaan, kemandirian, dan kebebasan. Maslow berpendapat, apabila
kebutuhan harga diri sudah teratasi, maka manusia siap memenuhi kebutuhan pada
tingkat yang lebih tinggi lagi.
Dalam
manajer implikasinya, kebutuhan ini berhubungan erat dengan kebutuhan harga
diri. Manajer harus memberi reward untuk karyawan yang mampu mencapai atau
melebihi target mereka. Manajer juga bisa mempromosikan kepada karyawan untuk
menempati kedudukan yang lebih tinggi. Hal ini akan membuat karyawan memiliki
harga diri dan kebutuhan atas penghargaan terpenuhi.
Kebutuhan
Akan Aktualisasi Diri
Kebutuhan
aktualisasi diri merupakan tingkatan kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan
ini melibatkan keinginan yang terus-menerus untuk mencapai potensi. Menurut
Maslow, kebutuhan ini ialah kebutuhan yang dimiliki manusia untuk melibatkan
diri sendiri untuk menjadi apa yang sesuai keinginannya berdasarkan kemampuan
diri. Manusia akan memenuhi hasratnya sesuai dengan kemamuan yang dimiliki pada
dirinya.
Dalam
manajer implikasinya, manajer dapat menantang karyawan dalam pekerjaannya,
sehingga ketrampilan dan kreatifitas karyawan dapat meningkat dan terpakai
sepenuhnya. Bukan hanya itu, peluang berkembang juga perlu diberikan agar
karyawan dapat mengembangkan kariernya. Manajer bisa membuat tantangan tersebut
sebagai dorongan kepada karyawan. Dengan begitu, tumbuh motivasi karyawan untuk
memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.

Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkujung di Blog Achmad Romli Fadli, Semoga Bermanfaat !!!